TRENDING NOW

PEKANBARU – KONTRASRIAU.COM - 
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Riau, Dr. Nilam Sari, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 di Provinsi Riau berjalan sesuai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Penegasan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang diunggah pada akun Instagram BPMP Riau

Dalam keterangannya, Nilam memastikan tidak akan ada pembukaan SPMB gelombang kedua maupun penambahan daya tampung sekolah setelah seluruh tahapan penerimaan peserta didik selesai dilaksanakan. Menurutnya, seluruh kuota sekolah telah ditetapkan berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan hasil koordinasi antara pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota.

"SPMB ini merupakan komitmen bersama untuk memastikan seluruh anak mendapatkan akses pendidikan yang adil dan berkualitas. Karena itu, sejak awal kami sudah menyampaikan bahwa tidak ada pembukaan kuota tambahan setelah pelaksanaan SPMB selesai," ujar Nilam.

Ia menjelaskan, untuk jenjang SMA proses pendaftaran telah selesai dan saat ini memasuki tahapan daftar ulang. Sementara itu, proses penerimaan peserta didik untuk jenjang SD dan SMP masih berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah masing-masing.

Menurut Nilam, pemerintah telah melakukan perencanaan daya tampung secara matang sebelum pelaksanaan SPMB. Oleh karena itu, masyarakat diminta memahami bahwa tidak semua siswa dapat diterima di sekolah yang menjadi pilihan utama mereka apabila kuota sekolah tersebut telah terpenuhi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan kehendak kepada Dinas Pendidikan untuk menerima peserta didik di luar kuota yang telah ditetapkan. Menurutnya, Dinas Pendidikan hanya menjalankan aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

"Kami meminta masyarakat untuk menghormati aturan yang berlaku. Jangan memaksa Dinas Pendidikan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan regulasi. Semua proses penerimaan harus berjalan sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan," tegasnya.

Dalam pernyataannya, Nilam mengajak orang tua untuk memanfaatkan jalur-jalur penerimaan yang telah disediakan pemerintah, yaitu jalur domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Setiap jalur, kata dia, telah dirancang untuk memberikan kesempatan yang adil bagi peserta didik sesuai dengan kondisi dan pencapaian masing-masing.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan manipulasi data demi memperoleh kursi di sekolah tertentu. Menurutnya, pendidikan karakter harus dimulai dari kejujuran dan kepatuhan terhadap aturan.

"Jangan memulai masa depan anak-anak dengan cara-cara yang tidak benar, seperti memanipulasi data, menyuap, atau memaksakan kehendak. Anak-anak harus belajar bahwa keberhasilan diraih melalui usaha, prestasi, dan kejujuran," katanya.

Nilam turut mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus mengawal pelaksanaan SPMB agar berjalan objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.

Ia menegaskan bahwa pemerintah telah membuka informasi terkait daya tampung dan hasil seleksi secara terbuka sehingga masyarakat dapat mengawasi jalannya proses penerimaan peserta didik baru.

"Kami memastikan sejak awal bahwa tidak ada SPMB gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya. Seluruh daya tampung telah dihitung berdasarkan kebutuhan pendidikan dan kapasitas sekolah yang tersedia," ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Nilam menegaskan bahwa tujuan utama pelaksanaan SPMB adalah memastikan seluruh anak di Provinsi Riau memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Menurutnya, pemerataan akses pendidikan tidak hanya berlaku bagi sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta yang menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional.

"Kami ingin seluruh anak Riau mendapatkan haknya atas pendidikan yang berkualitas. Pemerataan akses pendidikan harus dirasakan oleh seluruh peserta didik, baik yang bersekolah di sekolah negeri maupun sekolah swasta," ungkapnya.

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak mengulangi berbagai persoalan yang kerap muncul setiap tahun dalam proses penerimaan peserta didik baru. Salah satunya adalah praktik titip-menitip siswa maupun upaya mencari jalan pintas untuk mendapatkan kursi di sekolah tertentu.

Selain itu, Nilam mengingatkan masyarakat agar mewaspadai praktik jual beli bangku sekolah yang dilakukan oleh oknum tertentu. Menurutnya, pemerintah telah mengantongi sejumlah informasi terkait dugaan praktik tersebut dan akan berkoordinasi dengan Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Riau serta Dewan Pendidikan untuk melakukan tindak lanjut.

"Hati-hati dengan sekolah atau oknum yang menjual bangku sekolah. Praktik seperti itu tidak dibenarkan dan tidak akan membawa keberkahan. Kami memiliki data dan akan menindaklanjutinya bersama pihak terkait," tegasnya.

Menutup pernyataannya, Nilam mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga integritas pelaksanaan SPMB 2026 agar tetap berjalan sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas, objektivitas, keadilan, dan tanpa diskriminasi.

"Mari kita sukseskan SPMB 2026 dengan menjunjung tinggi integritas. Jangan ada perlakuan khusus, jangan ada jalur belakang. Biarkan anak-anak kita mendapatkan pendidikan melalui proses yang jujur, adil, dan bermartabat," pungkasnya.
PEKANBARU -  KONTRASRIAU.COM - 
Bentuk perhatian dan empati terhadap masyarakat kurang mampu, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Pekanbaru menjenguk salah satu masyarakat kurang mampu yang anaknya masuk rumah sakit dan belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Hal ini disampaikan oleh Ketua DPC GRIB Jaya Pekanbaru melalui Ketua Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru Nurhayati bersama pengurus Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru usai menjenguk pasien keluarga kurang mampu tersebut di Rumah Sakit Prima Pekanbaru, Rabu (24/6/2026).

Lebih lanjut Nurhayati sedikit menceritakan kondisi keluarga pasien tersebut, bahwa keluarga pasien tersebut termasuk kategori masyarakat kurang mampu, karena orang tua dari pasien, yang ayahnya seorang buruh bangunan dan ibunya IRT yang juga bekerja serabutan untuk membantu kebutuhan ekonomi rumah tangga yang mempunyai 3 orang anak.

Dan terkait anaknya sakit, Rheisa Dwi Hafizah (14) yang kita jenguk ini, merupakan anak kedua yang sakitnya sejak dari lahir, mengidap penyakit Dandy-Walker syndrome (sindrom Dandy-Walker) yang merupakan penyakit kelainan bawaan lahir langka yang memengaruhi perkembangan otak.

lSedangkan anak ketiganya, Rakha Ahmad Athaya (10) dari keluarga yang kurang mampu tersebut juga mengidap penyakit Autisme Aptikal sejak dari lahir juga," terang Nurhayati.

"Dan anak mereka yang pertama lah yang sehat dan normal," tambah Nurhayati.

Melihat kondisi tersebutlah, kami dari Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru merasa perihatin dan terpanggil untuk menjenguk dan membantu meringankan sedikit biaya selama perobatan anaknya dirumah sakit walaupun biaya berobat anak tersebut ditanggu oleh BPJS dengan program UHC dari Pemerintah Kota Pekanbaru.

"Karena, selain biaya selama dirumah sakit, keluarga tersebut juga memerlukan biaya pengobatan anak ketiga yang tinggal dirumah, seperti pempes anaknya dan kebutuhan-kebutuhan lain dari anak tersebut dan anak pertamanya yang masih sekolah, belum lagi sewa rumah," ujar Nurhayati.

"Dengan peristiwa ini, kami mengetuk hati para pejabat Pemerintah, baik Kota Pekanbaru, Provinsi Riau untuk dapat memperhatikan keluarga kurang mampu tersebut, melihat dari beban hidup yang mereka tanggu selama ini, dimana selama ini belum pernah mendapatkan bantuan sosial, baik itu berupa PKH, BPNT dan bantua-bantuan lainnya," pungkas Nurhayati.

Pada keaempatan yang sama, dengan mata berkaca-kaca, Annisa Fitri, ibunda dari Rheisa Dwi Hafizah, pasien yang sakit, didamping suaminya Jhonny Rheza mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada GRIB Jaya Pekanbaru, dalam hal ini Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru atas kedatangannya untuk menjenguk anak kami yang sakit.

"Semoga apa yang diberikan oleh Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru, hanya Allah SWT yang bisa membalasnya dan kami hanya minta doa kan anak kami sehat dan bisa kembali kerumah, sehingga kami bisa kembali bekerja seperti biasa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kami," ujar Annisa sambil menghapus air matanya yang jatuh membasih pipinya.

Sumber : Humas Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru
PEKANBARU – KONTRASRIAU.COM - 
Ombudsman RI Perwakilan Riau mengapresiasi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 yang dinilai berlangsung lebih transparan dan akuntabel dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Riau, Bambang Fatama, S.H., M.H., menyampaikan bahwa seluruh tahapan utama SPMB, mulai dari proses pendaftaran hingga pengumuman hasil seleksi, telah berjalan dengan lancar. Saat ini, proses penerimaan murid baru telah memasuki tahapan pendaftaran ulang.

"Kami mengapresiasi penyelenggaraan pelayanan SPMB Tahun 2026 yang lebih transparan dan akuntabel. Pada tahun ini masyarakat dapat melihat secara terbuka daya tampung sekolah yang diumumkan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," ujar Bambang dalam siaran persnya.

Meski demikian, Ombudsman meminta Dinas Pendidikan, pihak sekolah, dan seluruh panitia SPMB untuk tetap menjaga konsistensi dalam menjalankan aturan yang telah ditetapkan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah larangan menerima peserta didik baru pada sekolah-sekolah yang kuotanya telah terpenuhi.

Selain itu, Ombudsman juga mendorong agar peserta didik yang belum diterima dapat didistribusikan ke sekolah-sekolah negeri yang masih memiliki daya tampung. Sementara bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu, diharapkan dapat difasilitasi melalui jalur afirmasi ke sekolah-sekolah swasta yang telah bekerja sama dengan pemerintah.

"Kami juga mengimbau kepada para orang tua agar tidak memaksakan memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang kuotanya sudah penuh. Semua pihak harus menghormati aturan yang berlaku demi terwujudnya keadilan bagi seluruh peserta didik," katanya.

Menurut Bambang, keberhasilan penyelenggaraan SPMB tidak hanya bergantung pada pemerintah dan sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat untuk menjaga integritas proses penerimaan murid baru.

Ia berharap seluruh pihak dapat terus menjaga akuntabilitas, transparansi, dan integritas dalam penyelenggaraan layanan pendidikan sehingga manfaat dan rasa keadilan dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik.

Ombudsman RI Perwakilan Riau juga memastikan akan terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan SPMB Tahun 2026. Masyarakat yang menemukan dugaan kecurangan atau maladministrasi dalam proses penerimaan murid baru diminta untuk segera melaporkannya.

"Laporan dapat disampaikan melalui nomor pengaduan Ombudsman RI Perwakilan Riau di 0819-5953-3737 atau dengan datang langsung ke kantor Ombudsman RI Perwakilan Riau di Jalan Hang Tuah Nomor 34, Pekanbaru," tutup Bambang.
PEKANBARU – KONTRASRIAU.COM - 
Di tengah pengumuman hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pendidikan Provinsi Riau, masih terdapat sejumlah siswa dari keluarga kurang mampu yang belum berhasil memperoleh kursi di sekolah negeri.

Merasa prihatin atas kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GRIB Jaya Kota Pekanbaru menerima berbagai pengaduan dari masyarakat, khususnya orang tua siswa yang tidak lolos dalam proses seleksi SPMB. Sebagai bentuk kepedulian, Ketua DPC GRIB Jaya Kota Pekanbaru, S. Hondro, bersama jajaran pengurus mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Riau di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru, Senin (22/6/2026), untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

Dalam keterangannya kepada awak media, Hondro mengaku kecewa karena masih ada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan di sekolah negeri.

"Hari ini kami melihat ada masyarakat Riau yang ingin belajar dan bersekolah, tetapi masih menghadapi berbagai kendala. Kami dari GRIB Jaya akan terus memperjuangkan hak mereka. Kami tidak ingin anak-anak masyarakat Pekanbaru dan Riau pada umumnya dipersulit dalam mendapatkan pendidikan," tegasnya.

Menurut Hondro, hingga saat ini sudah sekitar 45 keluarga yang datang mengadu ke kantor GRIB Jaya Kota Pekanbaru untuk meminta bantuan dan pendampingan terkait proses penerimaan siswa baru.

"Kami menerima banyak keluhan dari masyarakat yang kesulitan menghadapi sistem pendaftaran yang serba digital. Tidak semua masyarakat memiliki kemampuan dan akses yang sama dalam mengikuti proses tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut, Hondro menyampaikan kekecewaannya karena pada hari terakhir pengumuman hasil SPMB, saat dirinya bersama pengurus dan sejumlah orang tua siswa mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Riau, tidak satu pun pejabat yang dapat ditemui untuk menerima aspirasi masyarakat.

"Kami datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi tidak ada satu pun pejabat yang dapat ditemui. Padahal hari ini adalah hari yang sangat penting karena banyak orang tua yang ingin mendapatkan penjelasan terkait nasib pendidikan anak-anak mereka," katanya.

Menurut Hondro, kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat hari pengumuman merupakan momen penting bagi masyarakat yang membutuhkan penjelasan dan pelayanan langsung dari pihak penyelenggara SPMB.

Dalam kesempatan tersebut, Hondro didampingi Nurhalizah, orang tua dari Ayla Azzuhra Balqis, salah seorang calon siswi yang tidak diterima di sekolah negeri tujuan. Dengan mata berkaca-kaca dan penuh harapan, Nurhalizah memohon kepada Pemerintah Provinsi Riau agar anaknya diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah negeri.

Menurut Nurhalizah, keluarganya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta. Selain itu, keluarga mereka juga tidak tercatat sebagai penerima program bantuan sosial pemerintah sehingga tidak dapat mengikuti jalur afirmasi yang mensyaratkan dokumen tertentu.

"Saya berharap anak saya bisa diterima di sekolah negeri. Kalau harus masuk sekolah swasta, kami tidak sanggup membayar biaya pendidikannya," ungkap Nurhalizah dengan suara lirih.

Sementara itu, Ayla Azzuhra Balqis mengaku sedih setelah mengetahui dirinya tidak diterima di sekolah yang diinginkan, sementara sebagian teman-temannya berhasil lolos seleksi.

Meski demikian, ia tetap berharap dapat melanjutkan pendidikan seperti siswa lainnya.

"Saya hanya ingin sekolah dan melanjutkan pendidikan," ujar Ayla.

Hondro juga menyoroti berbagai persoalan yang menurutnya masih menjadi keluhan masyarakat dalam pelaksanaan SPMB. Ia berharap pemerintah dapat memberikan ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi siswa yang belum diterima, terutama dari keluarga kurang mampu.

"Kami akan tetap berada di tengah masyarakat untuk memperjuangkan anak-anak yang belum diterima di sekolah negeri. Harapan kami pemerintah membuka peluang, baik melalui penambahan kursi maupun kebijakan lain yang sesuai aturan. Yang terpenting, jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan belajar," tegasnya.

Selain itu, Hondro meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pemanfaatan kuota yang tidak terisi pada jalur tertentu agar dapat dimaksimalkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang masih belum mendapatkan sekolah.

Menurutnya, pendidikan merupakan hak seluruh anak bangsa yang tidak boleh terhambat hanya karena persoalan administrasi maupun keterbatasan ekonomi.

Sementara itu, Humas DPC GRIB Jaya Kota Pekanbaru, Sabam Tanjung, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke rumah Nurhalizah, orang tua Ayla Azzuhra Balqis, di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Pekanbaru Kota.

Dari hasil peninjauan tersebut diketahui bahwa ayah Ayla bekerja sebagai buruh angkut di pasar, sementara ibunya turut membantu perekonomian keluarga dengan penghasilan yang sangat terbatas.

"Kami melihat langsung kondisi keluarga ini. Mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana dengan biaya sewa sekitar Rp350 ribu per bulan. Kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Namun mereka tidak masuk dalam data keluarga kurang mampu," ujar Sabam.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pendataan masyarakat miskin agar bantuan dan program pemerintah benar-benar tepat sasaran.

Sebagai tindak lanjut, GRIB Jaya Kota Pekanbaru berencana membuka Posko Pengaduan Pendidikan bagi masyarakat kurang mampu yang mengalami kendala dalam proses SPMB. Posko tersebut akan beroperasi di Sekretariat DPC GRIB Jaya Kota Pekanbaru untuk menampung aspirasi dan keluhan masyarakat.

Sabam Tanjung berharap Pemerintah Provinsi Riau dapat memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum memperoleh kesempatan bersekolah di sekolah negeri.

"Kami berharap pemerintah hadir memberikan solusi. Jangan sampai ada anak-anak Pekanbaru yang menganggur dan tidak melanjutkan sekolah hanya karena tidak mendapatkan kursi di sekolah negeri. Pendidikan adalah hak seluruh anak bangsa dan harus bisa diakses oleh semua kalangan," tutupnya.
PEKANBARU - KONTRASRIAU.COM - Dalam rangka memeriahkan dan mensukseskan Hari Jadi Kota Pekanbaru yang Ke-242 Tahun 2026, Pemerintah Kota Pekanbaru menggelar berbagai acara dan kegiatan sosial bagi para anak-anak usia SD se-kota Pekanbaru, yakni lebih kurang 1100 orang anak usia sekolah dasar (SD), ikut serta kegiatan sunatan massal gratis, juga jajanan kue talam durian sepanjang jarak 1 Km diberikan gratis buat masyarakat Kota Pekanbaru, dan pelayanan cek kesehatan gratis dan kegiatan sosial lainnya.
Hal ini dibenarkan oleh Kepsek SDN 45 Pekanbaru Drs. Yasrimeddi Menyampaikan Alhamdulillah dari sekolah kami, ada sebanyak 19 orang anak SDN 45 Pekanbaru, mengikuti acara Sunatan Massal yang ditaja oleh Pemko Pekanbaru, dalam rangka memeriahkan dan mensukseskan Tahniah Hari Jadi Kota Pekanbaru yang Ke-242 Tahun 2026." Pungkas Drs. Yasrimeddi kepada awak media KONTRASRIAU.COM. Minggu(21/06/2026)pagi.

" 19 orang siswa kami terdiri dari siswa kelas 1 hingga kelas 6, serta 5 orang siswa dari umat muslim dan 14 orang anak lainnya non muslim. Dan anak-anak kami masuk pada sesi kedua sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, bertempat di Halaman MPP Jalan Jenderal Sudirman - Pekanbaru." Ujarnya.

Alhamdulillah ke 19 orang siswa kami sangatlah senang dan gembira, dan penuh antusias, karena pada acara sunatan massal ini diberikan secara gratis, tidak dipungut biaya sepeserpun, malah anak-anak kami diberikan banyak hadiah usai di sunat, seperti Kain sarung, Makan Nasi Kotak + Snack dan hadiah-hadiah menarik lainnya dari Pemko Pekanbaru..

" Tambah kepsek Drs. Yasrimeddi, kami selaku kepala sekolah SDN 45 Pekanbaru, sangatlah apresiasi, bersyukur serta mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru, atas terlaksananya kegiatan sosial, yakni digelarnya sunatan massal, di peruntukan secara gratis bagi anak-anak SD se-Kota Pekanbaru, khususnya bagi 19 orang anak-anak dari SDN 45 Pekanbaru." Tegas Yasrimeddi.

Karena orangtua murid dan masyarakat sangatlah terbantu sekali, dengan kegiatan sosial yang di Taja oleh Pemko Pekanbaru, dalam rangka Hari Jadi Kota Pekanbaru Ke-242 tahun 2026. Semoga di Ulang Tahunnya Yang Ke-242 tahun 2026 ini,Kota Pekanbaru menjadi Kota yang Maju dan Sejahtera.

" Dan dari orangtua murid peserta sunatan massal dari SDN 45 Pekanbaru, mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru, mudah-mudahan program yang sangat baik dan bagus ini, dapat berlanjut terus di masa-masa mendatang." Tutupnya.

Editor : Omeng



PEKANBARU - KONTRASRIAU.COM - Pada kondisinya kalau saya lihat SPMB di hari terakhir ini di SMAN 8 Pekanbaru masih relatif amanlah ya, tapi memang ada sebagian orang yang merasa tidak puas itu pasti ada, dan ini wajar saja." Ucap Deslisis Hasanto kepada awak media KONTRASRIAU.COM.

" Diantaranya masyarakat terkait dengan masalah domisili, orang yang tinggal dekat dengan sekolah. Nah problemnya seperti apa? karena itu berpatokan dengan nilai. Dekat sekolah iya, namun karena problem nilainya rendah, otomatis dia tereleminasi oleh sistim, bukan karena disengaja." Tegasnya.

Tambah Deslisis, karena semata-mata tidak ditentukan dengan jarak, jarak itu dari kluster. Kalau dari sosialisasi, saya rasa bukan dari Dinas Pendidikan Riau saja, dari sekolahpun sudah bagus menurut saya." Jelasnya.

" Namunkan sekarang ini kan masalah nya kan sistim, yang problem itu ya di sistim itu sendiri. Anak tidak bisa masuk, meskipun tinggalnya di dekat dengan sekolah, tapi karena nilainya tadi tidak kompeten dia tidak diterima." Kata Delisis Hasanto.

Jadi yang seperti ini, anak sulit untuk mengakses sekolah lain, karena tidak ada zonasinya lagi.akhirnya apa, iya lari ke sekolah swasta, iyalah yang menjadi serius perhatian kitalah." Tutupnya.

Editor : Omeng