Low Profile: Panggil Saja Andi Rachman, Nama Gubernur Kepanjangan!

Pekanbaru – Kontrasriau.com – Gubernur Riau (Gubri) H Arsyadjuliandi Rachman memang bukanlah sosok yang terkenal. Pribadinya yang low profile dan jarang diekspose, membuat namanya tak begitu populer di masyarakat.

Sebagai orang nomor satu di Negeri Lancang Kuning, pria yang akrab disapa Andi Rachman itu lebih fokus bekerja saja. Bahkan di awal-awal jadi Gubernur, ia jarang bertemu wartawan. Merasa sungkan hasil kerjanya diekspose media. Sangat berbeda tentunya dengan kebanyakan pejabat yang justru mencari-cari wartawan.

Asumsi tentang popularitas yang rendah makin nyata, ketika sebagai Gubernur, Andi turun ke daerah-daerah menyapa rakyatnya. Malah mendiang bapaknya, Abdul Rachman Syafei atau yang lebih dikenal Rachman Kawe dan usahanya dengan bendera Sinar Riau, jauh lebih populer. Ini misalnya terbukti saat Andi turun menyapa rakyatnya di Pasar Duri dan Pasar Dumai. “Ini anak Pak Rachman Kawe ya,” kata seorang pedagang. “Ini Pak Gubernur anak Sinar Riau ya,” kata pedagang yang lain.

Asumsi itu semakin ketara pada acara Zitizen Vaganza Goes to School 2017 di Lapangan Upacara Gajah Mada, Tembilahan, Indragiri Hilir pada Ahad (30/4/2017). Saat itu, Gubri Andi hendak menyerahkan doorprize kepada seorang peserta. Tapi sebelum doorprize diserahkan, Gubri mengajukan dua pertanyaan. Pertama, siapa nama Bupati Inhil? Pelajar setingkat SMA itu langsung menjawab dengan enteng. Kedua, siapa nama Gubri? Sang anakpun tiba-tiba terdiam tak bisa menjawab. “Pasti nggak tau kan,” ucap Gubri Andi melihat sang anak kesulitan menjawab.

Gubri Andi pun meminta sang anak melihat dan membaca foto serta nama Gubri yang terpampang besar di beberapa baliho, yang berdiri di sekitar lokasi. “H. Arsyadjuliandi Rachman. Namanya panjang Pak,” sebut sang anak, yang disambut gelak tawa hadirin. Beberapa orang dari rombongan Gubri pun ikut menyahut. “Panggil aja Pak Andi Rachman,” ajaknya.

Riwayat Singkat

Jika anda termasuk orang yang belum begitu mengenal sosok Gubri Andi Rachman, berikut penjelasan riwayat singkat beliau.

Arsyadjuliandi Rachman, lahir tanggal  8 Juli 1960 di Pekanbaru. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 14 Pekanbaru, Ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Bukittinggi, Sumatera Barat,  tahun 1973. Semula, setamat SMP ia melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 di kota yang sama, namun jenjang pendidikan itu Ia selesaikan di SMA 3 Yogyakarta pada tahun 1980.

Perguruan tinggi ditempuh Andi, demikian ia akrab dipanggil, di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 1980-1985. Tamat dari sana, ia diminta menemani kakaknya, Dewi, yang melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat pada 1986.

Kesempatan itu digunakannya untuk menuntut ilmu di Oklahoma City Unversity,  jurusan Marketing Track. Hal ini terjadi setelah ia bertemu dengan Taufik Saleh, seorang anak Riau yang menjalani tugas belajar di negeri Paman Sam itu. Apalagi, orangtuanya yakni Abdul Rachman Syafei, tidak banyak tanya saat Andi mengajukan keinginan melanjutkan kuliah di Amerika Serikat yang dapat diselesaikannya dua tahun, 1986-1987.

Tidak saja memperoleh gelar master bidang bisnis di Amerika Serikat (MBA),  di kota tempat ia kuliah itu pulalah ia bertemu dengan Sisilita, perempuan asal Kalimantan Barat yang kini menjadi pendamping hidupnya. Dari pernikahannya dengan Sisilita, ia kemudian dianugerahi seorang anak yang dinamakan Arsilia. Anak tersebut kini pun telah menganugerahinya dua orang cucu berkat pernikahan sang anak dengan Giovandi Suhendi.

Andi merupakan anak kelima dari 10 orang adik-beradik. Pada awalnya, namanya ditulis “Arsadjuliandi”, yang ternyata merupakan singkatan dari nama kedua orangtuanya, Abdul Rachman Syafei – Asma Hasan. Tetapi  menjadi “Arsyadjuliandi” yakni penambahan huruf “Y” oleh seorang gurunya ketika di SMP, malah tertulis dalam ijazah. Sedangkan “Djuliandi” diambil dari bulan kelahirannya yakni Juli yang pada saat ia lahir memang ditulis Djuli, sesuai dengan ejaan yang berlaku waktu itu—belum mengenal Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) seperti sekarang ini, berlaku sejak tahun 1973. Sudah dapat ditebak, “Rachman” di ujung nama sosok ini, memang diambil dari nama orangtua lelakinya.

Andi semula dikenal sebagai seorang saudagar yang boleh dikatakan sudah dididik untuk itu sejak kecil. Hal ini terlihat dari “tugasnya” sebagai anak yakni menemani ibu berbelanja ke pasar setiap hari Ahad.  Selain dapat menjamu selera, pelan-pelan ia mengamati bahwa di pasar, ada transaksi jual-beli yang begitu dinamis dengan sosok ketergantungan antara satu dengan lainnya dalam pusaran keseharian. Peresapan pemahaman ini tambah terasah, sebab kemudian, setiap hari libur ia menemani ayahnya ke kota-kota yang menjadi basis usaha sang ayah. Dengan label Sinar Riau, bisnis taxi transportasi tersebut di tangan ayahnya sudah amat berkembang.

Riau Muda Group

Seperti yang sudah dapat diduga, kuliah di AS makin merangsang jiwa kewiraswastaannya, di samping bertambah percayanya orang terhadap sosoknya. Apalagi, gelar MBA yang disandangnya langsung dari AS, yang waktu itu memang belum banyak disandang orang di Riau. Sang ayah pula, menyerahkan beberapa usaha yang harus dibesarkan Andi tanpa lagi bersandar pada orangtua meskipun masih sejalan, setelah Andi kembali dari AS. Dari sinilah ia kemudian mengembangkan bisnisnya yang bergerak di bidang transportasi, pertambangan, distribusi, dan perkebunan di bawah bendera Riau Muda Group.

Dilatarbelakangi sejarah keluarga yang mapan, pendidikan, dan pergaulan, selama ini, tidak ada bentuk penolakan signifikan ketika Andi Rachman dimunculkan dalam suatu kelompok. Selebihnya, Andi merasa tak pula ada pihak yang harus dilawannya. Suatu sikap yang berusaha untuk berpikir positif, memang coba diamalkan Andi. Tetapi di sebalik itu semua, hal tersebut memperlihatkan sikap percaya dirinya yang dapat dikedepankan. Ia tak perlu risau dengan apa yang hendak dilakukan orang terhadapnya terutama berkaitan dengan hal-hal negatif, sehingga ia lebih memfokuskan perhatian terhadap apa yang sebaiknya dilakukan untuk kepentingan bersama. Pasti, kepentingan bersama yang di dalamnya, Andi juga berada. Lagi pula, ia tidak ambisius terhadap sesuatu hal.

Ketika ia dimunculkan sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tahun 1989, ia memang sudah dikenal sebagai pengusaha dengan bendera Riau Muda Group, apalagi dengan latar belakang pendidikan ekonomi di dalam dan di luar negeri. Artinya, ia memang mengawalinya dari kondisi pengusaha yang menyingsingkan lengannya untuk itu. Menjadi Ketua Kadin Riau tahun 2001-2011 (dua periode) dapat dikatakan sebagai suatu jenjang karier berorganisasi yang semula memimpin pengusaha muda, tetapi berkembang tanpa membatasi junior dan senior.

Ketika akhirnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia tahun 2010, bukankah hal itu dapat dipahami sebagai jenjang orang di daerah untuk tampil ke pentas nasional? Dengan demikian pula terjadi regenerasi, sebab kursi yang ditinggalkan Andi di daerah, harus segera diisi dengan orang baru. Itu pun setelah ia berhasil membuktikan kemampuannya mengorganisir beberapa daerah sampai 10 provinsi dalam program kerja sama IMT-GT. Masuk akal pula, bila kemudian ia menjadi National Director IMT-GT Indonesia Business Council (2003-2010) yang berkedudukan di ibukota negara, Jakarta. Dalam waktu hampir bersamaan (2005-2010), ia adalah Wakil Ketua Sekretariat Nasional Kerjasama Ekonomi Subregional, Kantor Menko Perekonomian RI.

Dari Bawah

Demikian juga dalam politik. Boleh dikatakan “mewarisi” Golkar dari orang tuanya karena ayahnya, Abdul Rachman Syafei, juga terlibat aktif dengan partai tersebut. Tapi Andi, mengawali karier politiknya dari bawah, mulai dari anggota biasa walaupuan ia jebolan perguruan tinggi luar negeri. Ia tidak bermasalah dengan hal itu, kemudian bersedia duduk di biro DPD Golkar. Dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan organisasi bergengsi tingkat provinsi, ia tidak tertarik untuk masuk partai lain yang dapat mengantarkannya langsung ke puncak pimpinan di daerah pada awal reformasi. Ia terus di Golkar, sampai akhirnya menjadi Bendahara Umum DPD Golkar Riau (2003-2010). Menjadi anggota DPR RI yang berkedudukan di Jakarta hasil Pemilu 2009, ia kemudian dipilih menjadi Wakil Sekjen DPP Golkar (2010-2015).

Dengan posisi organisasi pengusaha dan politik semacam itu, Andi Rachman tidak memanfaatkannya dengan melapah proyek pemerintah, meskipun ia tidak mempermasalahkan bila pengusaha lain mengerjakan proyek di pemerintahan. Potensi ladang usaha di luar pemerintah baginya masih amat besar, bahkan berkembang dari hari kesehari. Keperluan transportasi misalnya, makin berkembang seiringan dengan perkembangan penduduk dan fasilitas transportasi. Usaha di bidang pertambangan dan distribusi juga demikian.

Dengan pengalaman yang tidak banyak dimiliki orang di daerah, ia dapat merambah usaha tersebut ke provinsi lain yang Riau senantiasa menjadi cermin usaha perminyakan dan energi karena eksploitasi alamnya untuk hal-hal demikian sejak lama, sampai memberi sumbangan besar dalam pembiayaan negara. Apalagi ketika otonomi daerah bergulir yang membuka sedikit atau banyaknya keran subjek-subjek tempatan untuk berperan dalam pengelolaan emas hitam itu. Tak heran bila usahanya kemudian tertancap di luar Riau.

BUMD

Andi dianggap nekad menjadi Direktur Utama PD Sarana Pembangunan Riau yang merupakan badan usaha milik daerah (BUMD), 1999-2004. Sebab sesuatu yang sudah menjadi stigma umum, BUMD selalu dikaitkan dengan peran pemerintah sebagai pelayan masyarakat yang tidak mencari keuntungan material, sehingga acapkali BUMD disebut senantiasa menyusui terus-menerus dari kas daerah. Lebih buruk lagi, BUMD dituding sebagai lembaga ekonomi untuk menghidupkan kroni penguasa, bahkan acapkali dituding sebagai bank tak resmi yang memenuhi kepentingan penguasa dan pengelola. Bagaimana tidak, BUMD memperoleh modal dari APBD.

Cuma saja, pandangan awal di atas menjadi terbalik, manakala setelah berjalan, BUMD itu memberi keuntungan kepada daerah. Dari perusahaan yang tidak memiliki asset dan aktivitas bisnis yang jelas, menjadi satu-satunya perusahaan daerah milik pemerintah Provinsi Riau tanpa harus menyusu pada APBD. BUMD itu memberi kontribusi yang cukup signifikan untuk sumber penerimaan dana pembangunan daerah. Sadar bahwa BUMD harus mampu memberikan solusi bagi perekonomian daerah dan mengingat kondisi kelistrikan Riau yang sangat memprihatinkan pada saat itu serta mengantisipasi keperluan listrik yang semakin meningkat, Andi berhasil melobi pemerintah pusat dan PT Caltex Pacific Indonesia (sekarang Chevron) untuk menghibahkan 3 (tiga) unit genset milik PT CPI ke BUMD Sarana Pembangunan Riau yang saat ini dioperasikan oleh PT Riau Power. Selain itu, sebagai Dirut Perusahaan Daerah, Andi mencetuskan sekaligus memeromosikan kepada investor tentang pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai dan Kawasan Industri Tanjung Buton.

Pada masa kepemimpinannya, Kadin menjadi pionir (penyelenggara pertama kali) Kegiatan Pameran Pendidikan dan Bursa Tenaga Kerja yang sampai sekarang terus diselenggarakan oleh banyak institusi. Demikian juga dengan upaya menumbuhkembangkan wirausahawan baru dan UMKM di Riau. Andi, mafhum bahwa daerah atau negara yang rakyatnya makmur secara ekonomi harus ditopang oleh kuantitas dan kualitas wirausahawan dan UMKM, terutama dalam hal optimalisasi potensi ekonomi daerah.

Sebagai Ketua Umum Kadin, organisasi yang mewadahi dan representasi pelaku dunia usaha, Andi Rachman gigih memperjuangkan agar pelaku usaha tempatan mendapatkan porsi yang proporsional dalam kue pembangunan. Hal tersebut tercermin dengan keberhasilannya menginisiasi pembentukan LBD (Local Business Development) di PT CPI dan adanya kebijakan pemerintah Riau untuk mengutamakan pelaku usaha daerah dalam pelaksanaan pengadaan barang jasa di Riau.

Tak cukup dengan upaya itu saja, saat ia duduk sebagai anggota DPRD Propinsi Riau periode 2004 – 2009 dan saat sebagai anggota DPR-RI / MPR-RI periode 2009 – 2014, perjuangan membela kepentingan rakyat dan daerah terus dilanjutkan. Melalui Komisi VII DPR-RI (membawahi bidang Energi, Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi), program kelistrikan Riau yang didanai APBN terus diperjuangkan. Setidaknya, kerja keras Andi terwujud dengan dibangunnya pembangkit listrik yang telah dirasakan oleh Kabupaten Kepulauan Meranti, Dumai, Pelalawan, dan Rokan Hilir maupun percepatan pembangunan PLTU Tenayan Raya di Pekanbaru.

Isu lingkungan hidup yang berdampak langsung pada dunia usaha di Riau maupun masyarakat, dijawab oleh Andi dengan menyelenggarakan aktivitas penanaman pohon produktif maupun pendirian Bank Sampah di Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Program tersebut juga disandingkan dengan pengenalan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan praktis kepada masyarakat khususnya petani dan UMKM.

Menyuarakan Kebudayaan

Dalam suatu percakapan, Andi pernah mengatakan bahwa jalan hidupnya datar-datar saja, tidak dramatik. Dengan keyakinan benar dan tepat, ia berusaha mengikuti jalur yang ada, kemudian mengembangkannya. Seperti juga terlihat pada pergerakannya di bidang bisnis dan politik yang auranya sama saat ia menduduki jabatan Gubernur Riau.  Beberapa bulan setelah dilantik sebagai Wakil Gubernur Riau, 25 September 2014, ia harus menerima jabatan Plt Gubernur. Tanpa pernah direkayasanya pula, sejak 25 Mei 2016 ia diangkat menjadi Gubernur Riau definitif.
Previous Article Gubri disambut Antusias Masyarakat Batak Parna Duri Next Article Berharap Perhatian Pusat Terhadap Daerah Penghasil, Gubri Temui Wamen ESDM.***(hms/wrc/Krc)

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *